Diskriminasi sebagai Batu Loncatan Kemandirian: Studi Kualitatif pada Penyandang Disabilitas Netra di Komunitas PERTUNI Kota Kupang

Authors

  • Maria Imelda Daido Nahak Universitas Nusa Cendana
  • Mernon Yerlinda C. Mage Universitas Nusa Cendana
  • Christiani Natasya Miru Universitas Nusa Cendana

DOI:

https://doi.org/10.59945/jpnm.v4i4.1686

Keywords:

Diskriminasi, Disabilitas Netra, Kemandirian, PERTUNI, Respons Psikologis

Abstract

Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas netra tidak hanya membatasi partisipasi sosial, tetapi juga membentuk penilaian diri, reaksi emosional, dan pilihan perilaku. Penelitian ini bertujuan menguraikan pengalaman diskriminatif beserta dinamika psikologis yang menyertainya pada anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kota Kupang. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan terhadap empat partisipan berusia 20–37 tahun yang dipilih secara purposif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan ditelaah menggunakan analisis tematik, disertai konfirmasi temuan kepada partisipan. Lima tema teridentifikasi, yakni perlakuan merendahkan dan hambatan akses, respons kognitif, gejolak emosional, perubahan keterlibatan sosial, serta sumber penguatan. Pengalaman mencakup ejekan, perlindungan berlebihan, pengucilan, kendala layanan, dan pelecehan seksual yang dilaporkan seorang partisipan. Keraguan terhadap kompetensi diri, kesedihan, kemarahan, dan kecemasan hadir bersamaan dengan kewaspadaan serta pembatasan interaksi. Namun, beberapa partisipan menafsirkan pengalaman tersebut sebagai pendorong untuk membangun kemandirian. Dukungan keluarga, solidaritas komunitas, dan spiritualitas membantu proses penyesuaian. Variasi pengalaman berkaitan dengan tahap kehidupan, gender, dan waktu terjadinya kehilangan penglihatan. Keterbatasan akses publik memperkuat kebutuhan perubahan kebijakan layanan. Temuan menegaskan perlunya layanan aksesibel, penghormatan terhadap otonomi, dan penguatan dukungan psikososial berbasis komunitas guna mengurangi tekanan serta membuka peluang partisipasi yang setara.

References

Agustin, A., Sulistyoningsih, S., Sugiarti, R., & Suhariadi, F. (2024). Hubungan antara permasalahan interaksi sosial teman sebaya dengan gangguan konsep diri pada anak usia dasar. Jurnal Pendidikan Indonesia, 5(12). https://doi.org/10.59141/japendi.v5i12.6418

Allport, G. W. (1954). The nature of prejudice. Addison-Wesley.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Creswell, J. W. (2007). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches. SAGE Publications.

Giddens, A. (2013). Politics, sociology and social theory: Encounters with classical and contemporary social thought. John Wiley & Sons.

Goffman, E. (2009). Stigma: Notes on the management of spoiled identity. Simon & Schuster.

Hurlock, E. B. (1997). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Erlangga.

Iqbal, M., Damran, A., Pulubuhu, D. A. T., & Raf, N. (2025). Memaknai diskriminasi: Pengalaman hidup perempuan tunanetra dalam perspektif fenomenologi. Jurnal Nirta: Studi Inovasi, 5(1), 506–524. https://doi.org/10.61412/jnsi.v5i1.312

Jackson, S. E., Hackett, R. A., Pardhan, S., Smith, L., & Steptoe, A. (2019). Association of perceived discrimination with emotional well-being in older adults with visual impairment. JAMA Ophthalmology, 137(7), 825–832. https://doi.org/10.1001/jamaophthalmol.2019.1230

Jumilah, B. S., Wahyuni, S., & Warayan, M. Y. (2025). Dampak stigma sosial terhadap eksistensi diri penyandang disabilitas fisik di tengah masyarakat. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 10(1), 294–305. https://doi.org/10.21067/jmk.v10i1.11005

Kamilla, K. N., Saputri, A. N. E., Fitriani, D. A., Zahrah, S. A. A., Andryana, P. F., Ayuningtyas, I., & Firdausia, I. S. (2022). Teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Early Childhood Journal, 3(2), 77–87. https://doi.org/10.30872/ecj.v3i2.4835

Lestari, W., & Fitlya, R. (2021). Citra diri penyandang tunanetra terhadap diskriminasi dari lingkungan sosial. Psikologi Konseling, 12(2), 1159–1169. https://doi.org/10.24114/konseling.v19i2.30476

Mambela, S. (2018). Tinjauan umum masalah psikologis dan masalah sosial individu penyandang tunanetra. Buana Pendidikan, 14(25), 65–73. https://doi.org/10.36456/bp.vol14.no25.a1465

Maroto, M., Pettinicchio, D., & Patterson, A. C. (2019). Hierarchies of categorical disadvantage: Economic insecurity at the intersection of disability, gender, and race. Gender & Society, 33(1), 64–93. https://doi.org/10.1177/0891243218794648

Meyer, I. H. (2003). Prejudice, social stress, and mental health in lesbian, gay, and bisexual populations: Conceptual issues and research evidence. Psychological Bulletin, 129(5), 674–697. https://doi.org/10.1037/0033-2909.129.5.674

Mitra, S., & Yap, J. (2022). The 2022 disability data report. Disability Data Initiative. https://www.disabilitydatainitiative.org/twentyreport/disability-data-initiative-2022-report/

Novita, N. (2023). Gambaran adversity quotient pada penyandang tunanetra tidak bawaan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7, 4108–4115.

Partow, S., Cook, R., & McDonald, R. (2021). Coping with stigmatization and discrimination related to blindness and low vision. Rehabilitation Psychology, 66(4), 576–588. https://doi.org/10.1037/rep0000391

Pradnyadari, N. M. D. S., & Surjaningrum, E. R. (2024). Apakah hanya karena stigma? Dinamika psikologi individu tunanetra perolehan yang mengalami depresi. Jurnal Diversita, 10(1), 1–10. https://doi.org/10.31289/diversita.v10i1.6607

Pérez-Garín, D., Recio, P., & Molero, F. (2021). Consequences of perceived personal and group discrimination against people with hearing and visual impairments. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(17), 9064. https://doi.org/10.3390/ijerph18179064

Raintung, A. B. J., Paraeng, A. D., Manambe, C. V., & Binei, S. (2024). Diskriminasi terhadap anak tunanetra dalam keluarga: Kajian pastoral konseling. Padamara: Jurnal Psikologi dan Sosial Budaya, 1(2), 1–8. https://doi.org/10.70420/nms3b545

Republik Indonesia (2016). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Sekretariat Negara Republik Indonesia. https://peraturan.bpk.go.id/Details/37251/uu-no-8-tahun-2016

Riwukore, J. R., Habaora, F., Susanto, Y., & Manafe, H. (2019). Persepsi publik terhadap penyandang disabilitas di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial, 18(3), 209–218. https://ejournal.kemensos.go.id/index.php/jpks/article/download/1871/pdf/6754

Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2011). Health psychology: Biopsychosocial interactions (7th ed.). John Wiley & Sons.

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1986). The social identity theory of intergroup behavior. Dalam Psychology of intergroup relations (hlm. 7–24). Nelson-Hall.

Thoits, P. A. (2011). Sociological approaches to mental illness. Annual Review of Sociology, 37, 15–45. https://doi.org/10.1146/annurev-soc-081309-150205

Ueda, Y. (2018). Psychosocial adaptation to visual impairment. Dalam Causes and coping with visual impairment and blindness. IntechOpen. https://doi.org/10.5772/intechopen.70269

Downloads

Published

2026-10-13

How to Cite

Nahak, M. I. D., Mage, M. Y. C., & Miru, C. N. (2026). Diskriminasi sebagai Batu Loncatan Kemandirian: Studi Kualitatif pada Penyandang Disabilitas Netra di Komunitas PERTUNI Kota Kupang. JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin, 4(4). https://doi.org/10.59945/jpnm.v4i4.1686